MENCARI HIKMAH

SELALU ADA HIKMAH DI BALIK PERISTIWA

Calon Penghuni Surga

Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa salah satu calon penghuni surga adalah ‘dua orang manusia yang bertemu dan berpisah karena Allah’. Saya yakin Anda semua pernah membaca atau mendengar ini. Karena itu, saya ingin bercerita sedikit mengenai pemahaman baru saya terhadap hadits ini yang mungkin saja berbeda dari pemahaman Anda selama ini.

Sebelumnya, yang perlu digarisbawahi dari pernyataan di atas adalah frasa ‘bertemu dan berpisah karena Allah’. Tentu saja kata ‘bertemu’ dan 'berpisah’ di sini tidak digunakan secara denotatif yang berarti ‘bersama dan berjauh-jauhan secara fisik’. Kenapa demikian? Karena, jika makna ini yang dimaksudkan oleh dua kata tersebut, maka akan menunjukkan betapa mudahnya untuk mendapat predikat sebagai calon penghuni surga. Padahal, dalam konteks keagamaan, mencapai surga merupakan salah satu pencapaian tertinggi manusia yang tentu saja hanya bisa diraih dengan usaha yang berat. Seperti halnya untuk bisa menjadi pintar seseorang harus giat belajar, atau sebagaimana untuk jadi kaya seseorang harus kerja keras, untuk menjadi calon penghuni surga seseorang juga harus berjuang keras.

Berdasarkan alasan di atas, saya berkesimpulan bahwa kata ‘bertemu’ di sini mengandung makna konotatif ‘saling mencintai’ sedangkan ‘berpisah’ memuat arti ‘saling melepaskan’. Kedua makna konotatif ini jelas-jelas lebih sesuai dengan kriteria calon penghuni surga karena keduanya sama-sama berat untuk dilakukan. Nyatanya, tidaklah mudah untuk mencintai seseorang karena Allah. Demikian juga sangat sulit untuk berpisah dari seseorang yang dicintai karena Allah.

Selain itu, yang juga perlu dijelaskan dari pernyataan di atas adalah frasa ‘dua orang manusia’. In my humble opinion, frasa tersebut tidak mengacu semata-mata pada dua orang dengan jenis kelamin berbeda alias laki-laki dan perempuan, atau cowok dan cewek. Frasa ini juga bisa mengacu pada dua orang berjenis kelamin sama yang saling mencintai dan saling melepaskan dalam konteks persahabatan atau persaudaraan. Contoh mudahnya adalah persaudaraan yang terjalin antara sahabat muhajirin dan anshor pada masa Rasulullah. Namun demikian, dalam catatan ini saya hanya akan mengulas aplikasi pernyataan di atas dalam konteks hubungan antara laki-laki dan perempuan alias konteks percintaan.

Nah, bagaimanakah implementasi pernyataan tersebut dalam konteks percintaan? Bagaimanakah ‘saling mencintai dan saling melepaskan karena Allah’ ini berlaku dalam hubungan romantis yang melibatkan perasaan cinta? Lebih terperinci lagi, bagaimanakah dua orang (laki-laki dan perempuan) bisa saling mencintai karena Allah dan juga saling melepaskan karena Dia?

Tentu saja tidak mudah untuk menjelaskan jenis percintaan dan perpisahan yang didasari oleh dorongan penghambaan pada sang Khaliq. Saya yakin psikolog berpengalaman pun akan kesulitan membedakan percintaan dan perpisahan yang didorong oleh keikhlasan dan yang dilandasi oleh hal lainnya. Karenanya, saya yakin apa yang akan saya utarakan ini pasti akan memicu pro kontra dan saat menulis ini saya sudah siap menghadapi dan menerima ketidaksetujuan Anda asal disampaikan dengan cara yang baik dan tentu saja dilandasi alasan yang masuk akal nan logis.

Bagi saya, percintaan karena Allah adalah setiap hubungan percintaan yang didasari oleh niat baik dan yang memiliki tujuan baik. Di sini saya menggunakan istilah niat baik dan tujuan baik dengan pemahaman bahwa niat dan tujuan tersebut memenuhi kriteria sebagai niat dan tujuan yang diridhoi Allah. Keduanya (niat dan tujuan) harus ada dan menjadi dasar hubungan percintaan di antara dua insan.

Konkretnya, menurut hemat saya percintaan yang dilandasi oleh niat baik adalah percintaan yang diniati untuk saling mengenal dan menyesuaikan watak pasangan. Sementara itu, tujuan yang baik dari hubungan semacam itu adalah untuk membina rumah tangga melalui pintu pernikahan. Bisa dilihat di sini bahwa keduanya harus selalu ada dan saling melengkapi. Niat atau tujuan baik saja tidaklah cukup. Niat untuk mengenal watak pasangan saja tidaklah memadahi jika tidak dilengkapi dengan tujuan untuk menikah. Begitu pula tujuan untuk menikah saja tidaklah cukup tanpa adanya niat untuk saling mengenal dan menyesuikan watak pasangan.

Sampai di sini, bagi Anda yang saat ini sedang dalam masa ‘berpacaran’ coba dech tengok ke dalam lubuk sanubari Anda. Korek-koreklah nurani Anda untuk mencari tahu apakah hubungan yang selama ini Anda bina dengan pasangan Anda sudah didasari oleh niat dan tujuan yang baik setidaknya seperti yang sudah saya tuliskan di atas. Jika niat dan tujuan semacam itu telah mendasari hubungan Anda, jaga dan sterilkanlah keduanya. Jangan biarkan niat-niat ‘jahat’ menyusup dan mempengaruhi pikiran Anda sehingga membelokkan niat baik Anda. Sebaliknya jika ternyata selama ini niat dan tujuan Anda tidaklah mulia, mulai sekarang luruskanlah niat Anda. Buanglah jauh-jauh pikiran nista dari kepala Anda.

Dalam konteks ini ada satu pepatah lama yang menurut saya relevan: tanamlah padi dan perhatikanlah rumput pasti akan ikut tumbuh. Tanamlah rumput, dan awasi tidak ada padi yang ikut tumbuh. Maka, landasilah percintaan Anda dengan niat dan tujuan baik, karena saat niat dan tujuan Anda baik pun, hal-hal yang tidak baik pasti akan ikut mewarnai hubungan Anda. Sebaliknya, jika Anda sudah melandasi hubungan percintaan Anda dengan niat tak baik, jangan harap hal-hal baik akan mewarnai hubungan Anda.

Selanjutnya, apakah yang dimaksud dengan saling melepaskan karena Allah? Masih dalam konteks hubungan percintaan, secara sederhana frasa ini bisa dijelaskan demikian: secara sadar memutuskan dan mengakhiri hubungan romantisme di antara dua pasangan saat keduanya masih saling mencintai dengan pertimbangan demi kebaikan bersama. Bentuk dari 'kebaikan bersama' dalam konteks ini bisa bermacam-macam. Bisa jadi setelah berusaha saling mengenal dan berusaha menyesuikan watak, keduanya sama-sama merasa mendapati ketidakcocokan watak yang terlalu jauh yang jika dipaksakan untuk dilanjut ke jenjang pernikahan justru akan membahayakan kelanggengan pernikahan itu sendiri. Mungkin juga perpisahan itu disebabkan oleh faktor eksternal semisal tiadanya restu dari orang tua sehingga jika hubungan itu dilanjutkan akan menyakiti perasaan mereka. Nah, saat sepasang kekasih memutuskan untuk berpisah dengan alasan-alasan seperti ini, saat itulah mereka sedang mempraktikkan ‘saling melepaskan karena Allah ‘.

Hanya saja, terkait dengan restu orang tua ada beberapa hal yang harus dicatat. Jika alasan orang tua tidak merestui pernikahan tersebut sesuai dengan syariah semisal calon pasangan si anak terbukti sebagai orang munafik atau kafir atau musyrik, maka si anak yang menolak mengakhiri hubungan percintaan tersebut masuk ke dalam kategori anak durhaka. Namun, jika alasan orang tua tidak dibenarkan oleh syariah, misalnya, karena calon suami atau istri dari si anak berasal dari keluarga yang derajat sosialnya lebih rendah dari derajat sosial mereka sehingga mereka merasa malu jika mendapat menantu dari kalangan tersebut, maka si anak yang menolak untuk mengakhiri hubungannya dengan sang pasangan tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori anak durhaka. Justru, jika dengan alasan seperti itu orang tua tetap memaksa anaknya untuk mengakhiri hubungan percintaannya dengan sang pasangan, maka mereka sendirilah yang mendapat predikat orang tua durhaka.

Nah, bagi Anda yang merasa pernah mengakhiri hubungan dengan seseorang, ingat-ingatlah apa alasan yang mendasari keputusan Anda itu. Jika alasan Anda memang demi kebaikan bersama, maka menurut saya Anda patut mendapatkan predikat calon penghuni surga. Namun, jika ternyata Anda memiliki alasan lain, maka saya tidak tahu harus menyebut Anda apa.

Akhir kata, ternyata percintaan pun bisa mengantarkan kita menjadi calon penghuni surga. Cukup luruskan niat dan tujuan Anda saat membina hubungan dengan seseorang. Dan jika Anda harus mengakhiri hubungan itu, landasilah perpisahan Anda dengan alasan demi kebaikan.

Lanjut...

Avatar di Rumah Kami

Jika Anda termasuk penggemar film animasi dan gemar menontonnya di televisi, saya yakin nama Aang tidaklah asing di telinga Anda. Benar, Aang adalah salah satu nama tokoh dalam serial animasi Avatar yang di putar tiap hari minggu pagi di salah satu televisi swasta. Dan jika Anda benar-benar penggemar serial ini, Anda tentu sudah paham bahwa Aang adalah sang Avatar ke sekian yang digadang-gadang akan dilahirkan di dunia untuk membawa kedamaian bagi seluruh umat manusia.

Nah, bagi Anda yang kurang begitu menyukai serial animasi ini, ijinkan saya memberi sedikit penjelasan pengantar. Di dalam serial ini, digambarkan bahwa pada awalnya dunia diliputi oleh kedamaian meskipun terdapat empat kerajaan berbeda yakni kerajaan air, kerajaan api, kerajaan udara, dan kerajaan bumi. Masing-masing penguasa keempat kerajaan ini menguasai kemampuan khos. Kerajaan Api memiliki ilmu pengendali api, kerajaan air berkuasa mengendalikan Air, kerajaan udara memiliki kemampuan untuk mengendalikan udara, dan begitu pula kerajaan bumi memiliki kekuatan untuk mengendalikan bumi. Keempat kerajaan tersebut bisa hidup damai karena di masa itu terdapat satu orang yang menguasai ilmu khos dari keempat kerajaan tersebut. Avatar, julukan orang itu, memiliki kemampuan untuk mengendalikan api, air, udara, dan juga bumi. Dengan kemampuannya itu dia menjadi symbol yang menyatukan berbagai kerajaan yang berbeda.

Singkat cerita, bersama perginya sang Avatar, hilang pula kedamaian dunia. Perang antar kerajaan segera dimulai. Di antara keempat kerajaan itu, kerajaan api lah yang memulai perang dan berhasil menjadi kerajaan terkuat. Seolah sudah menjadi kodrat alam, yang terkuat selalu berusaha mendominasi. Tak ayal, dengan ambisi menjadi penguasa dari segala kerajaan, kerajaan api terus menerus memerangi kerajaan lain.

Pada saat itulah, muncul seorang anak kecil bernama Aang yang terlahir dari kerajaan udara. Dialah yang diramalkan menjadi Avatar berikutnya. Dengan bantuan teman-temannya yang berasal dari tiga kerajaan lainnya, Aang pun mulai mempelajari ilmu pengendali api, air, dan bumi. Tentu saja kemunculan Aang sang Avatar menjadi berita tak menyenangkan bagi kerajaan api. Jika Aang benar-benar menjadi Avatar maka ambisi kerajaan api untuk menguasai dunia pun di ambang bahaya. Maka, sejak mendengar kemunculan Aang, misi utama kerajaan api adalah untuk menangkap dan memusnahkan Aang.

Well, kira-kira demikianlah alur cerita film Avatar. Dan meski beberapa minggu lalu serial film ini sudah berakhir dengan ending yang sangat memuaskan, di dalam tulisan ini saya tidak akan membahas dan mereview keseluruhan cerita atau pun mengkritisi dan memuji film ini. Di sini saya hanya akan mengait-ngaitkan fenomena Avatar dengan kehidupan nyata dan kehidupan saya.

Nah, jika dikaitkan dengan dunia nyata, tentu saja Avatar hanyalah sebuah simbol yang sengaja diciptakan untuk mengkasatmatakan kekuatan tak kasat mata yang bisa mendamaikan dunia. Di wilayah keagamaan, Avatar mungkin bisa disamakan dengan juru selamat. Sementara itu, dalam dunia pewayangan, Avatar bisa jadi sejajar dengan tokoh Semar. Intinya, Avatar, Juru Selamat, ataupun Semar adalah wujud yang tercipta dari pengakuan manusia akan kekuatan supranatural yang bisa menjaga umat manusia dalam kehidupan yang teratur dan beraturan sehingga melahirkan kedamaian.

Dalam konteks yang lebih sempit, dalam hal ini keluarga saya, Avatar hanya berwujud manusia biasa yang bisa dilihat dan disentuh. Meskipun dalam wujud yang demikian, Avatar di rumah saya ini menguasai ilmu pengendali api, air, bumi, dan udara. Dengan penguasaan keempat elemen dunia ini, dia benar-benar bisa membawa ketenangan dan kedamaian.

Sampai di sini apakah Anda sekalian bisa menebak siapakah sang Avatar yang telah membawa ketenangan di rumah saya itu? Dan, apakah Anda tahu bagaimana dia mempraktikkan kemampuannya mengendalikan api, air, bumi, dan udara?

Baiklah, tidak perlu berpanjang lebar, sosok yang saya maksudkan adalah kakak ipar saya, istri kakak saya. Sekedar informasi, saya memiliki tiga saudara, dua kakak dan satu adik. Kebetulan, kami berempat berjenis kelamin laki-laki. Plus seorang ayah, rumah kami benar-benar diisi oleh para pria. Seperti yang bisa Anda tebak, rumah kami terasa kurang lengkap. Anda tentu tahu bahwa kurang lengkapnya hidup keluarga kami itu disebabkan oleh tiadanya sosok perempuan. Maka, meskipun secara otomatis kami berempat dituntut untuk mandiri sejak kecil, kehadiran sosok perempuan di keluarga kami merupakan hal yang kami semua tunggu-tunggu.

Dan saat yang kami nanti-nantikan itupun benar-benar datang saat kakak tertua saya menikah. Kehadiran kakak ipar pertama saya ini sungguh mengubah secara drastis hidup keluarga kami. Keluarga yang dulunya terasa kering kini menjadi begitu nyaman ditinggali. Ya, kakak ipar pertama saya ini benar-benar bisa menjadi Avatar pertama di rumah kami. Dia begitu lihai mengendalikan bumi, udara, air, dan api sehingga ketentraman bisa kami rasakan. Mungkin Anda bertanya bagaimana cara kakak ipar saya mempraktikkan keempat ilmu pengendali. Nah, biar Anda semua tidak penasaran, beginilah caranya menjadi Avatar di rumah kami.

Dia mengendalikan bumi dengan cara menata, merawat, dan membersihkan lantai dan sekeliling rumah kami. Kakak ipar saya lah yang menjadikan rumah kami nyaman ditinggali dengan senantiasa membuat lingkungan begitu asri. Trus, dia mengendalikan udara dengan cara menata rumah seisinya. Dialah yang selain membersihkan rumah juga menata perabot dan kawan-kawannya dengan lihai sehingga rumah kami yang sebetulnya sempit menjadi begitu lega. Nah, saat berurusan dengan kebutuhan sehari-hari seperti makanan, minuman, dan kebersihan, kakak ipar saya harus menggunakan ilmu pengendali air dan api. Ya, untuk memasak dia harus bisa mengendalikan air dan api.

Itulah Avatar di rumah kami. Dan seperti Avatar yang mau tidak mau harus digantikan oleh Avatar berikutnya, saat kakak ipar pertama saya harus pergi meninggalkan rumah kami untuk membina keluarga sendiri, datanglah kakak ipar saya selanjutnya. Layaknya Aang yang harus melanjutkan tugas Avatar sebelumnya, kakak ipar saya yang kedua pun melanjutkan tugas kakak ipar pertama untuk menentramkan rumah kami. Pertanyaannya, bagaimanakah dengan keluarga Anda? Adakah sosok Avatar yang menjadi penentram di rumah Anda?

Lanjut...

Di Sebuah Terminal

Sembari tersenyum, pencari hikmah bergumam 'ternyata benar hanya Dia
yang tidak pernah meninggalkanku dan selalu menyayangiku di manapun,
bagaimanapun, dan sampai kapanpun'.

Lanjut...

Memiliki Kehilangan

Yups, judul postingan ini sama persis dengan judul lagunya grup band Letto. Harus saya akui, grup band yang satu ini merupakan salah satu band yang saya suka. Bukan hanya karena aransemen musiknya yang mendayu-dayu dengan melodi yang menarik hati, ketertarikan saya pada band yang vokalisnya merupakan putra dari budayawan Emha Ainunnajib ini lebih disebabkan oleh dalamnya makna dari tiap lirik lagunya. Dan Memiliki Kehilangan merupakan salah satu lagu yang liriknya sangat dalam sehingga mau tidak mau pada saat mendengarnya ada secercah kesadaran religius yang muncul di benak saya.

Kalau Anda juga penggemar Letto, saya yakin Anda hafal lirik lagu ini. Namun, jika Anda bukan salah satu penggemar Letto, akan tetapi penasaran seperti apa liriknya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya tidak akan menuliskannya di sini. Lho kok? Iya, saya tidak akan menuliskannya di sini karena hanya akan mengurangi porsi inti tulisan. Lagian, jika Anda benar-benar ingin mengetahuinya cukup Anda cari di Google. Gampang tho?

Cukup sudah uraian mengenai keterkaitan postingan kali ini dengan grup band Letto. Kini, tibalah saatnya saya mengulas sedikit tentang topic tulisan kali ini, yakni kehilangan. Benar, saya terdorong untuk menuliskan hal ini karena saya sedang merasa sangaaaaat kehilangan. Bukan harta benda atau pekerjaan. Bukan pula harga diri atau wibawa. Saya hanya sedang kehilangan separuh dari jiwa saya. Iya, saat ini saya hanya hidup dengan separuh jiwa. Separuhnya lagi entah terbang dan hilang ke mana. Yang jelas, saat saya membuat tulisan ini, jiwa saya tinggal separo. Atau kalau mau didramatisir, saya bahkan tidak yakin kalo jiwa yang saat ini bersama saya tinggal separo. Mungkin saja lebih kecil dari itu. Terdengar dilebih-lebihkan ya? Biarin, yang penting saya jujur dengan apa yang saat ini sedang saya rasakan. Nyawa saya memang masih ada. Akan tetapi, jiwa saya tidak lagi sepenuhnya bersama saya.

Karena itulah, saya merasa kehilangan. Seperti kata Letto bahwa kita hanya akan merasa kehilangan jika pernah merasa memiliki, begitu pula yang terjadi dengan saya. Saya merasa saat ini separoh jiwa saya hilang, karena dulu saya pernah merasakan penuhnya jiwa bersama seseorang. Terdengar norak ya? Sekali lagi biarin. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saat ini sedang saya rasa. Jika ada di antara Anda yang menganggap tulisan ini gombal semata, dengan senang hati saya mempersilahkan Anda untuk tidak melanjutkan membaca. Toh pada postingan berjudul Disclaimer saya sudah menyatakan bahwa blog ini akan menjadi tempat dimana saya akan mencurahkan segala yang saya rasa. Jadi, pliss jangan protes.

Baiklah, mari kita lanjutkan. Jujur, kehilangan yang saya rasakan benar-benar mempengaruhi kehidupan saya. Kalau Anda mengamati dengan cermat blog ini, tanpa perlu saya beritahukanpun saya yakin Anda tahu bahwa blog ini juga terpengaruh oleh keadaan saya. Hitunglah, selama kurun waktu 9 bulan terhitung mulai bulan Juli 2008 sampai bulan Maret 2009 ini berapa banyak tulisan yang sudah saya buat dan saya posting di blog ini. Tidak banyak. Rata-rata dalam satu bulan saya hanya memposting dua tulisan. Bisa dilihat, dalam beberapa bulan saya bahkan tidak memposting satupun tulisan.

Melihat itu, apakah Anda merasa penasaran? Iya, memang selama kurun waktu yang telah saya sebutkan di atas, saya sedang sangat sibuk. Banyak pekerjaan dan urusan yang harus saya selesaikan. Namun, bukan itu inti persoalannya. Saya tidak memposting tulisan bukan karena kesibukan saya, akan tetapi lebih karena pikiran saya yang kalut. Saya yakin Anda bertanya “kalut kenapa?” Saat itu saya kalut karena sedang menghadapi persoalan yang jelas-jelas akan membuat saya kehilangan seseorang. Seseorang ini bukan saudara, teman, atau kolega. Seseorang itu adalah perempuan yang telah menjadi bagian dari jiwa saya selama kurang lebih lima tahun terakhir. Bayangkan bagaimana rasanya menghadapi persoalan yang Anda tahu akan membuat Anda kehilangan belahan jiwa. Rasanya sungguh pedih, perih, dan menyesakkan.

Kalau saja saya adalah orang lain yang easy going mungkin persoalan itu tidak akan begitu berpengaruh pada hidup saya. Kalau saja saya adalah cowok playboy yang suka mempermainkan perempuan demi kesenangan sesaat, mungkin masalah itu justru akan membuat saya happy. Sayangnya, saya bukan termasuk dari dua golongan di atas. Saya adalah tipe lelaki yang memikirkan segala sesuatu secara mendalam sehingga persoalan waktu itu benar-benar membuat saya oleng. Saya juga bukan termasuk playboy sehingga persoalan yang akan memisahkan saya dengan belahan jiwa sama sekali tidak memberi sedikitpun kesenangan. Hanya kepedihan. Iya, hanya kepedihan yang saya rasakan saat itu.

Akibat kepedihan yang saya rasa itu, pikiran saya menjadi kalut. Seperti yang bisa Anda tebak, kekalutan itu membuat saya jadi linglung otak. Karena otak yang menjadi linglung, semangat kerja, semangat menulis, dan semangat belajar saya menguap. Karena itulah, selama kurun waktu yang sudah saya sebutkan di atas, blog ini seperti blog yang sudah tidak terurus dan sudah ditinggalkan oleh pemiliknya. Saya sadar itu justru merugikan saya. Akan tetapi, sungguh segala usaha yang saya lakukan untuk membangkitkan kembali semangat hidup saya sia-sia belaka. Saat inipun, saat saya menulis ini, semangat hidup saya belum kembali. Luka saya masih menganga. Terkadang, bahkan luka itu terasa disiram cuka manakala saya merindukan belahan jiwa (dan ini terjadi hampir tiap saat) dan mendapati bahwa dia seolah tak lagi peduli dan tengah membangun mimpi-mimpinya sendiri.

Lanjut...

Ads is Yesterday

Setelah utak-atik template sekian lama, akhirnya space iklan di blog inipun bisa dihilangkan. Ya at the end, seperti inilah tampilan template blog yang bersih dari adverstisement. Lebih enak dipandang dan lebih mencerminkan pencarian hikmah :D.

Ups, tapi jangan kaget bila di waktu-waktu yang akan datang tampilannya berubah lagi. Memang saat ini pencari hikmah lagi seneng utak-atik tampilan. Saking asyiknya, sampai lupa posting tulisan. Kalo Anda pernah berkunjung ke sini serta pernah menulis komentar, tentunya Anda bisa melihat perubahan lain di sini selain space iklan yang sudah tidak ada. Yups, elemen lain yang berubah adalah form komentar.

Memang sih salah satu kelemahan ngeblog di blogger adalah kotak komentar yang kurang visitor friendly sehingga pengunjung males untuk berkomentar di blog-blog yang berplatform blogger. Ini tentu saja berbeda dari blog yang berplatfrom wordpress. Di blog-blog yang saya sebut terakhir, kotak komentar sudah sangat visitor friendly sehingga pengunjung dapat dengan nyamannya berkomentar.

Nah, dengan pertimbangan itulah akhirnya saya mencoba utak-atik form komentar di blog ini biar tidak sekaku aslinya. Setelah googling ke sana kemari, akhirnya komentar di blog inipun bisa diubah. Jadi, bagi pengunjung blog ini, jangan lagi sungkan menuliskan komentar Anda. Well, cukup segitu dulu. Saat ini pencari hikmah masih belum menemukan ghirrah ngeblog lagi. Tunggu saja dalam waktu-waktu dekat, saya akan memberi kado terindah di blog ini. Salam hangat... :)




P.S.: Bagi teman-teman yang ingin berkomentar tapi kesulitan karena tidak punya akun google atau wordpress atau yang lain, silakan pilih "ANONYMOUS" pada opsi scroll down yang ada di kotak komentar. Nice day...

Lanjut...

Doa

Ini bukan posting yg disengaja. Hanya karena mata tak jua mau
terpejamlah tulisan ini tercipta. Tapi, tentu saja tidak seperti
tulisan lain yg membahas suatu fenomena, posting kali ini hanyalah
ungkapan hati yg sedang dirundung nestapa karena teraniaya. Dalam duka
itulah terucap doa "Ya Allah, jangan kau cabut nyawa mereka sebelum
mereka menyesali dan menaubati kedzaliman yg mereka lakukan pada kami.
Amien..."

Lanjut...

Si Bungsu yang Teraniaya

Biasanya, menjadi anak bungsu merupakan anugerah. Kenapa demikian? Anak bungsu umumnya menjadi anak kesayangan orang tuanya. Apapun yang dimaui, pasti dipenuhi. Apapun keinginannya, pasti dikabulkan. Bahkan, selain dari orang tua, si bungsu juga biasanya menjadi muara kasih sayang kakak-kakak yang telah terlahir dahulu. Intinya, menjadi anak bungsu adalah jaminan kebahagiaan.

Kenyataannya, tidak selamanya menjadi anak bungsu selalu menyenangkan. Bertolak belakang dari pandangan umum bahwa menjadi anak bungsu merupakan anugerah, sebenarnya terlahir paling akhir bisa jadi merupakan sebuah bencana. Kalo Anda tidak percaya, baiklah lanjutkan membaca postingan ini karena tulisan semacam ini hanya terdapat di sini. Kalo ada di tempat lain, berarti itu postingan copy paste dari blog ini (mode narsis ON :D)

Baiklah, saya tidak akan berpanjang lebar lagi. Akan saya upayakan untuk menjelaskan pendapat saya secara ringkas, padat, dan jelas. AKan tetapi, sebelumnya harus diingat bahwa yang akan saya tulis ini tidak berlaku umum. Ya seperti kata pepatah, di setiap teori pasti ada pengecualian.

Well, tapi saya kok capek banget ya...? Yawdah dech, bahasan tentang si bungsu yang teraniaya ini akan saya lanjutkan kapan-kapan saja biar lebih komprehensif. Ditunggu ya....

(Selang tiga hari kemudian)

Huff, rasanya dua hari sudah cukup bagi saya beristirahat. Kini tiba saatnya saya melanjutkan dan menyelesaikan tulisan ini. Siapa tahu ada yang sudah tidak sabar menunggu. (Narsis lagi... hehe).

Sebenarnya, banyak alasan yang saya miliki sehingga saya berkesimpulan bahwa menjadi anak bungsu tidaklah menyenangkan akan tetapi justru menyakitkan. Namun, di posting kali ini saya tidak akan mengemukakan semua alasan yang saya miliki. Dua alasan saja saya rasa sudah akan bisa meyakinkan Anda bahwa memang menjadi anak bungsu tidaklah semenyenangkan seperti yang Anda bayangkan selama ini.

Pertama, dalam sebuah keluarga dengan beberapa anak, anak bungsu pasti akan mendapatkan satu stigma yang tidak menyenangkan yakni selamanya ia akan dianggap kekanak-kanakan atau tidak dewasa. Stigma ini akan terus melekat pada anak bungsu mungkin hingga ajal menjemputnya (hihihi, tragis banget bahasanya. Ngeri sendiri saya membaca kalimat ini).

Lho, emangnya mendapat stigma kekanak-kanakan akan membuat hidup jadi tidak menyenangkan? Ya iya lah... stigma kekanak-kanakan akan membuat hidup kita jadi sangaaat tidak menyenangkan. Kenapa? Karena stigma ini akan menjadi awal dan alasan tindakan dan perlakuan tidak menyenangkan yang akan diterima si anak di masa yang akan datang baik dari keluarga sendiri (termasuk di dalamnya orang tua dan kakak-kakak) maupun dari orang lain.

Kok bisa demikian? Ya bisa lah... Sekarang coba Anda bayangkan. Jika Anda menganggap anak Anda atau adik Anda masih anak-anak, bagaimana perlakuan Anda pada anak atau adik Anda itu? Saya percaya, jawaban yang pertama kali akan Anda lontarkan adalah "saya akan menyayanginya sepenuh hati". Bagus, memang seorang anak kecil sangat membutuhkan kasih sayang orang tua dan kakak-kakaknya. Terus, kalo anak atau adik yang Anda anggap masih kecil itu punya keinginan yang berbeda dengan Anda, apa yang Anda lakukan? Kok diem? Bingung ya? Ayolah, ungkapkan saja isi pikiran Anda dengan jujur. Apa yang akan Anda lakukan jika kondisinya demikian?

Nah, itu dia. Itulah penjelasannya kenapa mendapat stigma tak pernah dewasa tidak menyenangkan. Karena dengan stigma demikian, hakikatnya sebagian atau lebih dari kemerdekaan seorang anak sudah terenggut. Kok saya bisa berkata demikian? Iya, karena saya yakin saat seorang anak atau adik yang Anda anggap masih kanak-kanak memiliki keinginan yang berbeda dari keinginan Anda, maka yang akan Anda lakukan adalah berusaha dengan berbagai cara agar si anak mau mengubah keinginannya dan menuruti keinginan Anda. Iya kan? Kenapa demikian? Karena saat Anda menganggap anak atau adik Anda masih belum dewasa, maka Anda pasti akan beranggapan bahwa dia belum bisa memilah antara yang baik dan buruk. Akibatnya, saat pilihan anak berbeda dengan pilihan Anda maka Anda pasti akan menyalahkan pilihannya dan membenarkan pilihan Anda. "Kan dia masih kanak-kanak, sedangkan aku sudah mengenyam asam garam kehidupan". Pasti begitu gumama Anda dalam hati. Benar begitu tho? Ayo ngaku...

Kedua, ada satu peraturan tak tertulis di masyarakat (khususnya masyarakat daerah tertentu. terutama di daerah K***s, hehehehe) bahwa anak bungsu berkewajiban menjaga orang tua. Nah, peraturan yang mewajibkan ini sangat-sangat-sangat tidak menyenangkan.

"Lho, ini alasan yang tidak bisa diterima. Ini alasan yang sama sekali tidak ada landasannya. Apapun alasannya, menjaga orang tua harus dilakukan dengan penuh keihlasan, tidak boleh menggerutu atau mengeluh karena orang tua juga telah menjaga kita saat kita masih bayi. Jadi menjaga orang tua khususnya saat mereka sudah tua memang sebuah kewajiban sekaligus cara kita membalas kebaikan mereka".

Saya yakin kebanyakan dari Anda akan menggerutu demikian dalam hati saat membaca alasan kedua yang saya kemukakan. Baiklah, saya tidak akan melarang Anda menggerutu. Tapi, sebelum Anda melanjutkan gerutuan, tolong dengarkan dulu penjelasan saya kenapa saya berpendapat demikian.

Begini, memang benar menjaga orang tua saat mereka sudah tua adalah salah satu cara untuk membalas kebaikan mereka pada kita. Saya setuju seratus persen dengan ini. Bahkan, saya berani menyatakan bahwa kebaikan yang kita lakukan dengan cara melayani mereka saat mereka sudah tua masih lah jauh dari kebaikan yang mereka lakukan pada kita. Jika seumur hidup pun kita mengabdi dan melayani mereka, itu belum seimbang dengan kebaikan yang telah mereka lakukan pada kita. (Puas???)

Jadi, saya tidak mempersoalkan kewajiban menjaga orang tua ini. Fokus saya adalah aturan tak tertulis tentang kewajiban ini yang seolah-olah 90 persennya hanya dibebankan pada anak bungsu. Ini yang tidak adil. Ini yang dzalim. Kok bisa? Iya, karena jelas bagaimanapun ini bukan hanya kewajiban anak bungsu. Menjaga dan melayani orang tua adalah hak dan kewajiban semua anak termasuk anak sulung, anak tengah, anak setengah tengah dan anak bungsu. Maka, membebankan kewajiban ini hanya pada anak bungsu, apalagi dengan alasan agama jelas merupakan tindakan tak adil yang merampas hak-hak anak bungsu.

Masih bingung dengan alasan kedua ini? Baiklah, akan saya perjelas dengan contoh. Bayangkan, Anda adalah anak sulung, atau anak kedua, atau anak ketiga (pokoknya jangan anak bungsu) dari sebuah keluarga. Bayangkan, suatu saat Anda jatuh cinta pada seseorang yang kebetulan berasal dari luar kota. Anda sangat mencintai dia dan diapun mencintai Anda. Dia mau menikah dengan Anda akan tetapi tidak bisa tinggal bersama dengan orang tua Anda karena pekerjaannya di luar kota. Nah, pada saat demikian apa yang akan Anda lakukan? Saya yakin Anda akan menerima syarat itu dan melanjutkan niat Anda untuk menikah dengan orang yang Anda cintai itu meski setelah menikah Anda berdua tidak lagi harus bersama dengan Orang tua Anda. Kenapa Anda berani mengambil keputusan semacam ini? Lagi-lagi saya yakin karena Anda merasa tidak berkewajiban untuk menjaga orang tua. "Toh, masih ada adik saya". Saya yakin Anda berpikir demikian. AYo ngaku.....

Sekarang, bayangkan Anda dan adik-adik Anda selain si bungsu sudah menikah dan keluar dari rumah orang tua (meskipun tidak keluar kota). Suatu ketika adik bungsu Anda jatuh cinta pada seseorang yang juga berasal dari luar kota dan kerjanya pun di luar kota. Adik Anda sangat mencintai orang itu dan begitu pula sebaliknya. Dan mereka pun siap untuk menikah. Nah, sebagai kakak, apa yang akan Anda lakukan dalam keadaan demikian? Apakah Anda akan dengan serta merta menyetujui pilihan Adik bungsu Anda itu?

Nah, iya kan? Anda pasti tidak akan begitu saja menyetujui pilihan adik bungsu Anda. Jika Anda seorang yang ekstrim, bisa jadi Anda akan secara mentah-mentah menolak pilihan Adik Anda itu. Anda mungkin akan berargumen ini itu untuk menguatkan penolakan Anda dan agar terdengar rasional. Padahal, saya yakin di dalam hati Anda takut jika adik Anda jadi menikah dengan orang luar kota, maka bisa jadi dia ikut keluar kota. "Kalau demikian, siapa yang akan menjaga orang tua". Pasti, Anda berpikir demikian. Ngaku-ngaku.... (hehehehe)

Pertanyaannya, jika Anda boleh memutuskan untuk menikah dengan seseorang dan kemudian meninggalkan rumah, kenapa Anda melarang adik bungsu Anda untuk melakukan hal yang sama? "Lho, dia akan anak bungsu. Dia harus menjaga orang tua" Nah, ketahuan kan alasan Anda. Berarti benar kan bahwa menjadi anak bungsu tidak menyenangkan karena ia dibebani oleh kakak-kakak dan masyarakat sekitarnya untuk memikul tanggung jawab menjaga orang tua.

Udah ah, cukup segitu dulu postingan kali ini. Kalo, tidak sepakat dengan pendapat saya, silakan kasih komentar.... Bye....

Lanjut...